Bila hidup tanpa angka nol

https://goo.gl/images/Ns7sCt

Angka 0 dibaca “nol” entah kenapa dalam kehidupan ini angka nol disimbolkan demikian. Sebagai salah satu angka, nol sejatinya dapat menerangkan adanya hakikat penciptaan, maklum, nol sendiri juga dapat dipandang sebagai mahluk, meskipun mahluk mati, tetapi yang jelas ia merupakan sebuah objek yang diciptakan.

Telah kita ketahui bahwa kehidupan mahluk berawal dari ketiadaan oleh suatu keberadaan. Nol, menunjukkan bahwa kehidupan mahluk di alam semesta ini berasal dari suatu ketiadaan yang pada waktunya berakhir pada suatu ketiadaan. Sebagaimana dimisalkan nol itu disimbolkan, diperlihatkan, atau ditampakkan bentuknya bersumber dari bolpoint. Sebelum ada tulisan yang disepakati sebagai simbol nol atau angka nol, ia mulanya merupakan tinta yang terlarut dalam air, tidak dapat dibedakan keduanya dan sekaligus menunjukkan hakikat keberadaan.

Angka nol penting bagi suatu bilangan dan tentu berpengaruh terhadap ilmu-ilmu menghitung, ilmu pasti, ilmu alam, serta ilmu lainnya, dan Al-Khawarizmi lah yang pertama kali menemukan bilangan nol. Al-Khawarizmi adalah orang pertama yang menjelaskan kegunaan angka-angka.

Nol adalah suatu angka dan digit angka yang digunakan untuk mewakili angka dalam angka. Angka nol memainkan peran penting dalam matematika, yakni sebagai identitas tambahan bagi bilangan bulat, bilangan real, dan struktur aljabar lainnya. Sebagai angka, nol digunakan untuk tempat dalam sistem nilai tempat.

Dengan penggunaan angka tersebut maka kata Arab Shifr yang artinya nol (kosong) diserap ke dalam bahasa Perancis menjadi kata chiffre, dalam bahasa Jerman menjadi ziffer, dan dalam bahasa Inggris menjadi cipher. Bilangan nol ditulis bulat dan di dalamnya kosong.

Al-Khawarizmi pun memperkenalkan tanda-tanda negatif yang sebelumnya tidak dikenal di kalangan ilmuwan Arab. Para matematikawan di seluruh dunia mengakuinya dan berhutang budi kepada Al-Khawarizmi. Ia juga mengarang buku sundials (alat-alat petunjuk waktu dengan bantuan bayangan sinar matahari).

Lahir di kota Khawarizmi (Khiva), Uzbekistan pada tahun 780 M/ 164 H, dia adalah seorang ahli dalam bidang matematika, astronomi, astrologi, dan geografi. Sejak kecil Al-Khawarizmi telah bermigrasi bersama kedua orang tuanya menuju kota Baghdad, Irak. Saat itu Irak di bawah pemerintahan Khalifah al Ma’mun (813-833 M) yang juga sangat peduli terhadap ilmu pengetahuan.

Karena kecerdasan dan kegigihannya dalam belajar, Al Ma’mun memasukan Al-Khawarizmi sebagai anggota Baitul Hikmah atau Darul Hikmah (Wisma Kearifan) di Baghdad. Sebuah lembaga penelitian ilmu pengetahuan yang didirikan oleh Khalifah Harun ar-Rasyid.

https://goo.gl/images/629rdd

Di negara tersebut, Al Khawarizmi mendapat kepercayaan dari khalifah untuk melakukan sejumlah tugas riset ilmiah dan tugas-tugas khusus lainnya. Dia juga pernah menerjemahkan buku berbahasa Sansekerta yang berjudul Siddhanta kedalam bahasa Arab. Buku yang membahas ilmu astronomi ini, diterjemahkan Al-Khawarizmi ke dalam bahasa Arab dengan sangat baik.

Pada masa itu, bahasa Sansekerta merupakan bahasa yang banyak diminati orang untuk dipelajari. Penyebabnya bahasa Sansekerta merupakan bahasa pengantar dari buku-buku ilmu pengetahuan India. Pada tahun 830 M, Al-Khawarizmi mendapat tugas lagi untuk menerjemahkan buku geografi karya Ptolomeus, seorang ilmuwan Yunani.

Referensi :

http://www.gomuslim.co.id/read/khazanah/2017/03/03/3382/al-khawarizmi-bapak-matematika-penemu-angka-nol-dan-algoritma.html

https://www.kompasiana.com/jokoade/567a4b254723bd20052bb50e/eksistensi-tuhan-di-balik-angka-nol

Translate »
error: